Sunday, April 11, 2010

MODUL PENERAPAN SOSIOLOGI DALAM MASYARAKAT

A. SOSIOLOGI DAN PERKEMBANGANNYA
Ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di lingkungan sekitarnya. Oleh karena yang dipelajari manusia, maka selama manusia masih hidup dan berinteraksi, sosiologi akan tetap ada dan berkembang. Lihat saja perkembangan ilmu sosiologi sekarang ini sangat luar biasa, terbukti dengan munculnya banyak sosiolog di berbagai negeri dan diterapkannya ilmu sosiologi di segala bidang kehidupan. Pada pembelajaran kali ini, kita akan mengkaji perkembangan pengetahuan sosiologi dan penerapan bagi masyarakat. Namun, terlebih dahulu kita akan membahas sedikit tentang ilmu sosiologi.

1. Pengetahuan Sosiologi
Masih ingatkah kamu pada materi pembelajaran pada bab I? Di awal pembelajaran telah diuraikan mengenai ilmu sosiologi. Coba baca kembali materi tersebut! Selanjutnya kemukakan apa yang kamu ketahui tentang ilmu sosiologi. Secara umum, ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Kata sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang berarti teman atau kawan dan bahasa Yunani logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antarteman, yaitu antara orang yang satu dengan yang lain. Dalam pengertian ini, seorang musuh atau lawan pun dapat disebut teman. Selain itu, sosiologi juga mempelajari hubungan antara kelompok dengan kelompok lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, bidang yang dipelajari sosiologi
mencakup segi-segi kehidupan yang semakin luas. Oleh karenanya, banyak ahli mencoba membuat batasan yang jelas tentang pengertian dari sosiologi. Seperti, Prof. Dr. P.J. Bouman, Herbert Spencer, Pitirim A. Sorokin, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Kingsley Davis, dan lain-lain (sebagaimana dikutip Nata Saputra: 1982).
Sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara individu yang satu dengan yang lain, antara individu dengan kelompok dan antara kelompok dengan kelompok, apa yang menjadi objek kajian ilmu sosiologi? Menurut Meyer F. Nimkoff, terdapat tujuh hal yang menjadi objek studi sosiologi, yaitu faktor-faktor dalam kehidupan manusia, kebudayaan, sifat hakiki manusia, kelakuan kolektif, persekutuan hidup, lembaga sosial, dan perubahan sosial. Dengan kata lain, objek studi sosiologi adalah masyarakat, yaitu dengan menyoroti hubungan-hubungan antarmanusia tersebut. Masyarakat sebagai kajian sosiologi menunjuk pada sejumlah manusia yang telah sekian lama hidup bersama dan menciptakan berbagai peraturan pergaulan hidup. Terbentuknya sistem pergaulan dalam masyarakat dibatasi oleh aturan yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kebudayaan.
Namun, secara umum para ahli memusatkan perhatiannya pada liku-liku pergaulan hidup dengan segala risiko sosial dalam masyarakat. Di mana masyarakat mengandung konformitas (kepatuhan), artinya orang-orang yang terkait di dalamnya mempunyai kecenderungan yang sama. Dengan demikian, dalam mengkaji masyarakat berarti memandang hubungan antarmanusia dalam kehidupan masyarakat. Hal inilah yang menjadikan ilmu sosiologi dikenal sebagai ilmu masyarakat.



Dari deskripsi di atas telah dijelaskan mengenai pengetahuan sosiologi dan objek kajiannya. Untuk menambah pengetahuan tentang materi ini, cobalah menggali informasi tentang pengetahuan sosiologi melalui telaah pustaka. Manfaatkan buku-buku perpustakaan untuk mengerjakan tugas ini. Tulislah hasilnya dalam bentuk tulisan yang menarik dengan gaya bahasamu sendiri.

2. Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Pengetahuan sosiologi pada akhir abad XIX hingga akhir abad XX lebih banyak berkembang di dua benua, yaitu Eropa dan Amerika. Hal itu disebabkan di Eropa dan Amerika, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Melalui kolonialisme, ilmu sosiologi masuk ke wilayah Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai suatu ilmu yang mandiri, sosiologi masih berusia relative muda. Sosiologi dipopulerkan oleh Aguste Comte sekitar tahun 1830. Di Indonesia banyak di antara para pujangga dan pemimpin Indonesia yang memasukkan unsur-unsur sosiologis di dalam ajaran-ajarannya. Contoh: ajaran ”Wulang Reh” dan ajaran Ki Hajar Dewantoro. Ajaran ”Wulang Reh” yang diciptakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta, antara lain mengajarkan tata hubungan antara para anggota-anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan yang berbeda. Ajaran ini banyak mengandung aspek-aspek sosiologi, terutama dalam bidang intergroup relations. Almarhum Ki Hajar Dewantoro, pelopor utama yang meletakkan dasar-dasar bagi pendidikan nasional di Indonesia, memberikan sumbangan besar pada sosiologi dengan konsep-konsepnya mengenai kepemimpinan dan kekeluargaan Indonesia, yang dengan nyata dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.
Dari keterangan di atas, terlihat bahwa unsur-unsur sosiologi tidak digunakan dalam suatu ajaran atau teori yang murni sosiologis, akan tetapi sebagai landasan untuk tujuan lain, yaitu ajaran tata hubungan antarmanusia dan pendidikan. Untuk pertama kalinya sosiologi di Indonesia diperkenalkan oleh Prof. Dr. B. Schrieke, seorang guru besar sosiologi dari Belanda. Namun, pada saat itu sosiologi masih dianggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya terutama ilmu hukum pada sekolah tinggi hukum. Dengan kata lain, sosiologi belum dianggap penting dan cukup dewasa untuk dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan. Pada tahun 1934/1935, kuliah-kuliah sosiologi pada sekolah tinggi hukum ditiadakan karena dianggap tidak ada hubungannya dengan sosiologi. Mulai saat itulah perkembangan ilmu sosiologi menjadi mati. Namun, setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1948, seorang sarjana Indonesia Prof. Mr. Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya memberi kuliah sosiologi. Melalui titik awal inilah sosiologi mulai diajarkan di perguruan tinggi, hingga muncul bermacam-macam buku mengenai sosiologi di Indonesia (Nata Saputra: 1982). Kesemua ini memunculkan tokoh-tokoh generasi tua sosiologi seperti Prof. Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi S.H. M.A, Prof. Harsja W. Bachtiar, Dr. Arief Budiman, Dr. Nasikun, Dr. Loekman Soetrisno, dan lainlain.

Pada deskripsi di atas telah dijelaskan tentang bagaimana perjalanan ilmu sosiologi tumbuh dan berkembang menjadi sebuah ilmu yang dipelajari di Indonesia. Nah, untuk menambah wawasan tentang sejarah sosiologi, cobalah menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang sejarah sosiologi di Indonesia. Manfaatkan buku-buku referensi, berita-berita internet-internet atau jurnal-jurnal ilmiah. Selanjutnya, buatlah tulisan ilmiah dengan topic perkembangan sosiologi kemudian presentasikan di depan kelas.

3. Kelahiran Sosiologi Modern
Sosiologi modern tumbuh pesat di Benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Pertumbuhan ini justru bukan di Eropa yang merupakan tempat di mana sosiologi muncul pertama kalinya. Pada permulaan abad XX, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain-lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, mendatangkan perubahan besar dalam tubuh masyarakat.
Perubahan masyarakat yang terjadi menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras. Pada suatu titik mereka beranggapan bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Oleh karenanya, mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro atau lebih sering disebut pendekatan empiris. Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah
disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.

B. PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN SOSIOLOGI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Sebagaimana telah diuraikan pada awal pembelajaran, bahwa pengetahuan sosiologi menelaah gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat, seperti norma-norma, kelompok-kelompok sosial, lapisan-lapisan dalam masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses sosial, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan, serta perwujudannya. Namun, tidak semua unsur tersebut berjalan lancar, dalam arti sebagaimana dikehendaki oleh masyarakat yang bersangkutan.
Situasi ini mendorong munculnya kekecewaan-kekecewaan dan bahkan penderitaan bagi warga masyarakat. Untuk memecahkan kondisi ini banyak para ahli menerapkan pengetahuan sosiologi. Hal ini dikarenakan objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Selain sebagai alat untuk memecahkan masalah, keberadaan sosiologi digunakan pula dalam perencanaan sosial dan pembangunan Apa dan bagaimana kegunaannya, akan dipelajari pada materi di
bawah ini.

1. Penerapan Sosiologi dalam Perencanaan Sosial
Pengetahuan sosiologi sering diterapkan dalam perencanaan sosial. Dalam membuat sebuah perencanaan tentunya seorang ahli harus memahami betul seluk-beluk kehidupan masyarakat yang menjadi objek perencanaan sosial. Untuk memahami masyarakat Sebagai ilmu yang mempelajari gejala-gejala yang wajar dalam masyarakat, mampukah sosiologi memecahkan masalah-masalah sosial yang timbul dalam kehidupan masyarakat? inilah, seorang ahli menerapkan ilmu sosiologi. Jadi, jelaslah betapa pentingnya pengetahuan sosiologi dalam perencanaan sosial. Lantas apa yang dimaksud dengan perencanaan sosial itu?
Perencanaan sosial adalah suatu kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan manusia dalam masyarakat secara ilmiah yang bertujuan untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah pada masa-masa terjadi perubahan. Perencanaan sosial lebih bersifat preventif. Oleh karena itu, kegiatannya merupakan pengarahan-pengarahan dan bimbingan-bimbingan sosial mengenai cara-cara hidup masyarakat yang lebih baik. Oleh karena itu, berbagai perencanaan sosial dibuat.
Secara sosiologi, perencanaan sosial didasarkan pada perincian pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik daripada sebelumnya. Contoh, pada masa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti saat ini, tentunya akan membawa dampak positif maupun negatif. Hal ini berarti diperlukan persiapan untuk menggunakan perencanaan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat demi mencapai kemajuan. Sehingga teknologi bukan menjadi beban dan justru tidak bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
Menurut Ogburn dan Nimkoft (sebagaimana dikutip Soerjono Soekanto: 1987), terdapat beberapa persyaratan suatu perencanaan dapat berjalan efektif. Syarat-syarat tersebut antara lain:
a. Adanya unsur modern dalam masyarakat yang mencakup suatu sistem ekonomi. Sebagai contohnya telah dipergunakan uang, urbanisasi yang teratur, inteligensia di bidang teknik dan ilmu pengetahuan suatu sistem administrasi yang baik.
b. Adanya sistem pengumpulan keterangan dan analisis yang baik.
c. Terdapatnya sikap publik yang baik terhadap usaha-usaha perencanaan sosial.
d. Adanya pimpinan ekonomis dan politik yang progresif.

Selain itu, Soerjono Soekanto menambahkan bahwa suatu konsentrasi wewenang juga diperlukan untuk merumuskan dan menjalankan perencanaan sosial, supaya perencanaan tidak terseret oleh perubahan-perubahan sebagai akibat tekanan-tekanan dari golongan tertentu.
Secara umum, perencanaan sosial dibuat dalam rangka mengatasi berbagai rintangan dalam pembangunan. Suatu perencanaan perlu adanya kerja sama antarwarga masyarakat. Dalam hal ini, diperlukan usaha-usaha yang komunikatif dalam hubungan sosial sehingga kesepakatan bersama dalam suatu kolektif dapat tercapai. Untuk mencapai kesepakatan inilah pengetahuan sosiologi memegang peranan penting. Hal ini dikarenakan pengetahuan sosiologi erat kaitannya dengan berbagai unsur kebudayaan seperti nilai, norma, sikap serta peranan-peranan sosial yang dianggap mampu mengajak masyarakat untuk bekerja sama guna meningkatkan taraf kehidupan sosial.
Pada dasarnya terdapat beberapa kegunaan atau manfaat penerapan sosiologi dalam perencanaan sosial, kegunaan-kegunaan tersebut antara lain:
a) Sosiologi mempunyai dasar kemampuan mendalam tentang perkembangan kebudayaan masyarakat dari taraf yang tradisional sampai pada taraf kebudayaan yang modern. Dengan demikian, proses penyusunan dan pengenalan suatu perencanaan sosial relatif lebih mudah dilakukan.
b) Sosiologi mempunyai dasar kemampuan memahami hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan antargolongan dalam masyarakat, memahami proses perubahan dan pengaruh-pengaruh penemuan baru terhadap masyarakat. Hal ini berarti cara kerja sosiologi atas dasar kenyataan faktual dalam masyarakat, sehingga rancangan perencanaan relatif dapat dipercaya.
c) Sosiologi mempunyai disiplin ilmu yang objektif. Hal ini berarti proses pelaksanaan kerjanya lebih didasarkan pada spekulasi dan harapan yang ideal.
d) Menurut pandangan sosiologi, perencanaan sosial merupakan alat untuk mengetahui perkembangan kehidupan masyarakat, sehingga perencanaan tersebut dapat bermanfaat dalam menghimpun kekuatan sosial dalam rangka menciptakan ketertiban masyarakat.
e) Dengan berpikir secara sosiologis, maka perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui batas-batas keterbelakangan dan kemajuan masyarakat di bidang kebudayaan.

2. Penerapan Sosiologi dalam Penelitian
Selain diterapkan dalam perencanaan sosial, keberadaan sosiologi diterapkan pula dalam dunia penelitian. Sosiologi memiliki metodemetode penelitian sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu lainnya. Objek penelitian sosiologi mengacu hampir seluruh aspek kehidupan manusia, terutama aspek yang berhubungan dengan interaksi antarmanusia dalam masyarakat. Selain itu, tugas sosiologi adalah mencari dan menemukan data faktual tentang kebenaran yang terlepas dari nilai-nilai subjektif. Informasi sosiologi yang disajikan senantiasa ditemukan melalui metode-metode ilmiah yang sudah teruji.
Sosiologi dalam penelitian tentang tindakan sosial dalam masyarakat selalu bersandar pada interpretasi yang logis, objek diutamakan pada situasi yang dialami, diketahui dan dilihat, sehingga asumsi-asumsinya dapat dibuktikan. Selain itu penelitian sosiologis lebih mengutamakan hasil yang objektif serta bebas dari kecenderungan baik dan buruk. Oleh karena itu, di abad perubahan seperti sekarang ini dengan corak kehidupan sosial yang kompleks dan rumit penelitian sosiologis sangat dibutuhkan untuk mengungkap masalah yang faktual.
Atas dasar kenyataan tersebut, maka tidak mengherankan jika pengetahuan sosiologi banyak digunakan di berbagai kalangan praktisi pihak-pihak swasta, pemerintah dan banyak pula dimanfaatkan oleh peneliti-peneliti dari disiplin ilmu lainnya. Banyak organisasi-organisasi swasta, lembaga-lembaga pengumpul pendapat umum dan penelitian pasar, organisasi-organisasi industri dan manufaktur serta lembaga-lembaga profesional, menggunakan penelitian sosiologi. Oleh karenanya, para sosiolog dipandang sebagai personal yang memiliki kemampuan untuk duduk dalam berbagai jabatan, seperti bidang personalia, hubungan kerja atau perburuhan, dan berbagai anggota tim jenis evalusi tingkat kriminalitas, pencemaran lingkungan dan banyak lagi bidang yang berhubungan dengan kepentingan soal-soal kemasyarakatan.

3. Penerapan Sosiologi dalam Pembangunan
Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan pembangunan? Istilah pembangunan sering kita dengar pada masa Orde Baru. Pada masa pertumbuhan dan perkembangan seperti saat ini konsep pembangunan merupakan suatu ideologi yang menggambarkan kegiatan-kegiatan dalam upaya mengejar pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Suatu proses pembangunan perlu adanya kemauan keras serta kemampuan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang tersedia dalam masyarakat. Berbagai perencanaan perlu disusun dan digelar dalam rangka menghimpun kekuatan masyarakat dalam usaha mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Menurut Soerjono Soekanto (1987), suatu proses pembangunan berkaitan dengan pandangan optimis, yang berwujud usaha-usaha untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih daripada apa yang telah dicapai.
Secara sosiologi, fokus utama yang menjadi prioritas dalam pembangunan adalah usaha untuk mencapai perbaikan ekonomi dan tidak hanya terbatas pada golongan elite saja melainkan secara menyeluruh dan merata sampai pada lapisan terbawah. Dengan kata lain, pembangunan dalam arti kata sosiologi ditujukan pada pemberantasan terhadap angka kemiskinan. Kepekaan dan kemajuan pemikiran sosiologi inilah yang menjadikan pengetahuan sosiologi diterapkan dalam pembangunan. Selain itu, prosedur penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam sosiologi merupakan pemikiran gabungan yang paling maju. Sehingga metode ini sering digunakan untuk menuntun proses pembangunan dapat lebih objektif dan efisien.
Menurut Soerjono Soekanto, kegunaan sosiologi bagi pembangunan dapat diidentifikasi melalui beberapa tahap. Pada tahap perencanaan, sosiologi digunakan dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sosial, pusat perhatian sosial, stratifikasi sosial, pusat-pusat kekuasaan serta sistem dan saluran-saluran komunikasi sosial. Pada tahap pelakasanaan, sosiologi digunakan untuk mengadakan identifikasi terhadap kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat serta mengamat-amati proses perubahan sosial yang terjadi. Sedangkan pada tahap evaluasi dapat diadakan suatu analisis terhadap efek-efek sosial dari pembangunan tersebut. Dengan demikian, pembangunan menurut konsep sosiologis adalah proses peningkatan taraf hidup masyarakat yang didasarkan pada realitas sosial.

4.Penerapan Sosiologi dalam Pemecahan Masalah Sosial
Sebagaimana ilmu tentang masyarakat, sosiologi mempunyai peranan besar dalam upaya-upaya pemecahan masalah sosial. Bahkan upaya pemecahan masalah sosial secara terperinci dipelajari dalam kajian ilmu sosiologi. Oleh karena itu, sosiologi menyuguhkan metode-metode sosial yang mampu menjadi metode penanggulangan masalah-masalah tersebut.
Menurut Roucek dan Warren, masalah sosial merupakan masalah yang ditimbulkan oleh masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, masalah sosial adalah masalah yang melibatkan sejumlah besar manusia dalam pemenuhan kehendak biologis dan sosial. Sebagai
contohnya, masalah yang berhubungan dengan terjadinya benturan institusi, rendahnya pengawasan sosial atau kegagalan dalam menjalankan kaidah-kaidah.
Berbagai usaha dan cara telah banyak dilakukan untuk menanggulangi masalah-masalah sosial, akan tetapi belum ada metode yang ampuh untuk mengatasinya. Kesulitan ini dikarenakan masalahmasalah yang timbul tidaklah selalu sama, baik latar belakang, waktu maupun pengaruh-pengaruh yang menyertainya. Selain itu, metode dan analisis yang ada dalam masyarakat tidak mampu mengimbangi cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi.
Untuk memecahkan kesulitan ini, pengetahuan sosiologi menyuguhkan beberapa metode yang dirasa tepat dalam menanggulangi masalah sosial (Abdulsyani: 1987) yaitu:
1. Metode coba-coba (trial and error methods), yaitu cara penanggulangan masalah sosial yang paling sederhana. Metode ini sering digunakan untuk menanggulangi masalah sosial pada masyarakat yang masih tergolong sederhana. Dengan bantuan seorang dukun, atau dengan memberikan sesajen yang diletakkan pada tempat-tempat tertentu.
2. Metode analisis, yaitu cara penanggulangan masalah sosial dengan melakukan penelitian-penelitian secara ilmiah. Para peneliti melakukan pengumpulan data sebagai dasar untuk mencari penyebab-penyebab timbulnya masalah sosial yang
sedang terjadi, atau secara langsung menerapkan hasil keputusan pemikiran-pemikiran tertentu untuk meniadakan masalah sosial tersebut. Penerapan metode ini selalu disertai oleh pertimbanganpertimbangan tertentu terhadap nilai-nilai sosial beserta adat istiadat masyarakat setempat agar terdapat keseimbangan dan kerja sama yang harmonis dalam usaha penanggulangan masalahmasalah sosial tersebut.
3. Perencanaan sosial, yaitu suatu metode yang didasarkan pada fakta-fakta menurut hasil penelitian-penelitian ilmiah dan bukan berdasarkan pengalaman-pengalaman praktis atau penelitianpenelitian tanpa perhitungan. Pemikirannya adalah usaha yang berorientasi pada masa depan dengan ukuran waktu dan biaya yang telah diterapkan. Perencanaan sosial berarti usaha memperhitungkan dan menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih serasi dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologiI.

Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai objek studi masyarakat. Dengan pengetahuan sosiologi, dapat membantu kita untuk mengetahui dan mengungkap berbagai misteri kehidupan masyarakat yang tidak pernah berhenti berubah arah. Untuk itulah sosiologi sering diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Untuk memahami lebih lanjut, salin dan lengkapilah beberapa pengertian di bawah ini ke dalam buku catatanmu dengan menggunakan beragam sumber pustaka dan internet.
1. Pengetahuan sosiologi adalah . . . .
2. Tujuh hal yang dipelajari dalam sosiologi:
a. Faktor-faktor dalam kehidupan masyarakat.
b. Kebudayaan.
c. Sifat hakikat manusia.
d. Kelakuan kolektif.
e. . . . .
f. . . . .
g. . . . .
3. Tokoh-tokoh generasi tua sosiologi:
a. Prof. Selo Soemardjan
b. Soelaeman Soemardi S.H.M.A.
c. Prof. Harsja W. Bachtiar
d. . . . .
e. . . . .
f. . . . .
4. Penerapan sosiologi dalam kehidupan masyarakat.
a. Dalam bidang perencanaan sosial.
b. Dalam bidang penelitian.
c. Dalam bidang . . . .
d. Dalam bidang . . . .
5. Kegunaan pengetahuan sosiologi dalam perencanaan sosial:
a. Sosiologi mempunyai dasar kemampuan mendalam tentang perkembangan kebudayaan masyarakat dari taraf yang tradisional sampai pada taraf modern.
b. Sosiologi mempunyai disiplin ilmu yang objektif.
c. . . . .
d. . . . .
e. . . . .
.



A. Jawablah pertanyaan dengan tepat!
1. Jelaskan pengertian pengetahuan sosiologi!
2. Jelaskan secara singkat perkembangan sosiologi di Indonesia!
3. Sebutkan ajaran ”wulang reh” yang berkaitan dengan pengetahuan sosiologi!
4. Sebutkan tokoh sosiologi Indonesia!
5. Sebutkan kegunaan sosiologi dalam perencanaan sosial!
6. Jelaskan kegunaan sosiologi dalam penelitian!
7. Jelaskan kegunaan sosiologi dalam pembangunan!
8. Jelaskan kegunaan sosiologi dalam pemecahan masalah sosial!
9. Sebutkan syarat-syarat terjadinya perencanaan sosial!
10. Jelaskan keistimewaan sosiologi dibanding ilmu lainnya dalam penelitian sosial!
B. Belajar dari masalah!
1. Gelandangan dan pengemis (Gepeng), Wanita Tuna Susila (WTS) merupakan masalah sosial yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini. Kenyataannya 4.300 dari 6.800 orang perempuan penjaja seks komersial atau WTS (63,2%) di Malaysia, ternyata datang dari Indonesia. Hal inilah mempertegas bahwa masalah gepeng dan WTS berada di mana-mana. Sebagaimana Kota Tangerang sebagai penyangga Kota Jakarta, masalah serupa juga menjadi problem yang tidak terelakkan. Kota Tangerang menjadi wilayah pelarian para gepeng dan WTS Jakarta, ketika di kota metropolitan mereka disingkirkan oleh persaingan di antara komunitas mereka sendiri. Dengan melihat kasus di atas, cobalah berpikir kritis dalam menyikapinya, dalam memahami masalah gepeng dan WTS!
Dapatkah pengetahuan sosiologi diterapkan? Jelaskan serta cobalah mencari solusi terbaik dalam penanganan gepeng dan WTS apabila dilihat dari kacamata sosiologi!
2. Lagi-lagi konflik terjadi di Poso. Konflik ini membawa perasaan ketakutan dan kegelisahan di setiap warga Poso. Pengeboman, pembunuhan, penembakan oleh pihak-pihak tidak dikenal mewarnai konflik Poso. Padahal berbagai upaya perdamaian telah dilangsungkan. Berbagai spanduk digelar di seluruh pesolok tanah air dengan kalimat ”. . . Damai itu indah . . . Damai itu sejahtera . . . .” serta usaha-usaha menuju pemulihan telah dilakukan, tidak saja oleh pemerintah (baik
pusat maupun dalam), akan tetapi lembaga-lembaga swadaya masyarakat baik internasional, nasional maupun lokal, dan masyarakat setempat telah berusaha untuk melakukannya. Namun, sampai sekarang masih muncul kekerasan yang
mengganggu kehidupan warganya.
Pertanyaan yang muncul sekarang adalah mengapa konflik Poso tidak kunjung usai? Apa yang menjadi faktor-faktor yang menyebabkan kondisi Poso bagaikan api dalam sekam? Cobalah analisis kasus di atas, dengan menerapkan pengetahuan sosiologi!
Menurutmu, dengan pengetahuan sosiologi dapatkah menciptakansolusi yang tepat dalam masalah ini?

0 comments:

Post a Comment